Jumat, 21 Februari 2014

Indra Tohir
PERSIBHOLIC/MUHAMMAD AIDAN
Indra Tohir.Pelatih legendaris yang piawai membawa Persib menjadi juara
 
KEMAMPUAN pelatih legendaris yang satu ini menakhodai Persib Bandung tidak perlu diragukan lagi. Tangan dinginya mampu membawa Persib menjuarai Piala Perserikatan terakhir, Liga Indonesia pertama dan membawa tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut lolos ke babak semifinal Piala Champion Asia 1996.
Tidak perlu berpikir terlalu lama untuk mengingat siapa sosok legenda hidup yang mampu mempersembahkan sederet prestasi membanggakan bagi Persib tersebut.
Adalah Indra Mochamad Tohir, pelatih yang memiliki dedikasi yang sangat tinggi pada profesinya. Pria yang akrab disapa Kang Tohir tersebut lahir di Cigareleng kawasan Bandung Selatan pada 7 Juli 1941.
Tohir jadi satu-satunya Pelatih Persib yang mampu mempersembahkan dua gelar juara sekaligus. Catatan ini belum ditambah dengan keberhasilan Tohir mencicipi gelar juara Perserikatan 1986 dan 1990 dengan status sebagai Pelatih Fisik Persib.
Sebelum memberikan sederet prestasi bagi Persib, Tohir memiliki sejarah persentuhan yang cukup panjang dengan Persib Bandung. Alumnus STO (FPOK UPI) yang satu ini sebenarnya telah bergabung di jajaran Pelatih Persib sejak awal tahun 1980an.
“Awal tahun 1980an waktu pelatihnya Marek Janota saya sudah diminta untuk mendampingi dia melatih. Melatih fisik atau bahkan membantu melatih teknik,” ujar Tohir mengenang awal perjumpaanya dengan Persib ketika ditemui persibholic di kediamanya di bilangan Jalan Kartini, Bandung.
Pada tahun 1984 Tohir sempat absen dari jajaran pelatih Persib karena mendapat mandat dari rektor IKIP (UPI) untuk membesut tim sepak Bola Mahasiswa IKIP (UPI) yang akan berlaga di Liga Mahasiswa Nasional.
Namun Tohir tidak menyangka, keberhasilanya membawa UPI menjuarai Liga Mahasiswa Nasional justru membuat Persib semakin serius membidiknya. Pasca membawa UPI menjadi juara, Tohir pun kembali diminta untuk bergabung bersama jajaran Pelatih Persib.
Tidak hanya itu, beberapa anak asuh Tohir di tim tersebut juga diminta untuk bergabung ke skuad Maung Bandung, salah satunya adalah Adeng Hudaya.
Pada tahun 1985, Tohir mendampingi Nandar Iskandar berhasil membawa Persib menjuarai Piala Perserikatan 1985/1986. Peran Tohir saat itu cukup vital, pasalnya pria yang satu ini bertanggung jawab memoles fisik Skuad Persib agar selalu prima menjalani semua laga.
Tohir kembali merasakan gelar juara ketika mendampingi Ade Dana membesut Persib pada tahun 1990. Musim itu Persib kembali memboyong tropi Piala Perserikatan ke Kota Bandung.
Dengan prestasi yang cukup mencolok, PSSI akhirnya mempercayakan kursi Pelatih Fisik Timnas U-16 kepada Tohir di tahun 1991. Saat itu Tohir bersama Timnas U-16 menjalani pemusatan latihan selama satu bulan di Perancis dibawah asuhan seorang pelatih asal Brazil.
Tohir sendiri mendapat kepercayaan untuk menakhodai Persib pada tahun 1993. Namun uniknya, Tohir memberikan syarat yang terbilang cukup berat jika Pengurus Persib menginginkan sentuhan tangan dinginya.
“Saya minta syarat, kalau saya jadi pelatih makan Persib harus mau merubah pola 4-3-3 menjadi 3-5-2. Karena pada masa itu, tim-tim besar dunia juga sudah memakai formasi tersebut. Terlebih saya belajar langsung dari pelatih Brazil waktu di Prancis,” terang Tohir.
Syarat yang diajukan Tohir jelas membuat Ketua Umum Persib kala itu, Wahyu Hamijaya sempat dibuat kelabakan atas syarat yang diajukan Tohir tersebut. Di satu sisi Persib memang membutuhkan tangan dingin Tohir untuk membesut Sutiono Lamso cs. Tetapi di sisi lain, cukup sulit merubah formasi yang telah cukup lama digunakan Persib Bandung.
Persib akhirnya menerima syarat yang diajukan Tohir. Meski awalnya berbau spekulasi, pilihan menggaet Tohir akhirnya terbukti sebagai sebuah pilihan yang tepat.
“Akhirnya waktu itu pengurus menyetujui. Buahnya cukup manis, Persib berhasil menjuarai Piala Perserikatan terakhir dan Linina pertama,” kenangnya.
Tohir mengatakan, masih ada beberapa keputusan yang sempat dikritik oleh beberapa pihak setelah dirinya menjabat sebagai Pelatih Kepala Persib. Yang paling kentara adalah ketika Tohir menolak asupan pemain asing saat Persib mengikuti Liga Indonesia pertama.
“Tawaran tersebut saya tolak. Saya ingin Persib maju lewat pemain asli kita,” ujar Tohir.
Pilihan Tohir kembali membuat publik berdecak kagum. Pasalnya Persib dengan amunisi pemain lokal mampu menjuarai kompetisi sepak bola kasta tertinggi di negeri ini.
Saat itu Persib mampu mengakhiri babak penyisihan Wilayah Barat, Persib berada di peringkat kedua dengan mengumpulkan nlai 69, hasil 20 kali menang, 9 seri, dan hanya 3 kali kalah.
Bersama juara Wilayah Barat, Pelita Jaya (nilai 77), peringkat ketiga Bandung Raya (67), dan peringkat empat Medan Jaya (56), Persib mewakili Wilayah Barat lolos ke babak “8 Besar”.
Di babak “8 Besar” yang digelar di Stadion Utama Senayan, Persib bergabung di Grup B bersama Medan Jaya, Petrokimia Putra dan Dengan mencatat hasil imbang tanpa gol dengan Petrokimia, menang 2-1 atas Medan Jaya, dan menghantam Asyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS), Persib lolos ke semifinal sebagai juara Grup B.
Di semifinal, Persib akhirnya bisa mematahkan perlawanan keras Barito Putra, ketika Kekey Zakaria mencetak gol satu-satunya dalam partai tersebut. Di final, Persib kembali berhasil menekuk Petrokimia melalui gol semata wayang Sutiono Lamso.
“Padahal pemain kami lokal semua. Bayangkan klub lain sudah banyak memakai pemain asing yang kualitasnya sudah terbukti. Ada Dejan, Roger Mila dan Jackson F. Tiago. Saya lihat kemampuan mereka luar biasa,” ujarnya.
Bematerikan pemain lokal, Persib juga mampu lolos ke babak perempatfinal Liga Champion Asia yang digelar dengan sistem home tournament dan kebetulan Persib kala itu dipercaya sebagai tuan rumah menghadapi Verdy Kawasaki, Ilhwa Chunma dan Thai Farmers Bank. Sebuah prestasi membanggakan bagi klub Indonesia kala itu, bahkan hingga saat ini.
Berkat kemahiranya membesut para pemain lokal menjadi sebuah tim juara, Federasi Sepak Bola Asia menobatkan Tohir sebagai Pelatih Terbaik pada tahun 1996. Di tahun yang sama, sebuah media olah raga, Bola juga menganugerahi gelar serupa.
“Saya tidak pernah mengajukan diri untuk menerima anugerah tersebut. Bahkan yang dari AFC saya mengetahui dari mahasiswa saya yang sedang melanjutkan studi di Amerika. Waktu itu dia bilang baca berita kalau saya mendapat gelar pelatih terbaik dari AFC. PSSI saja tahunya beberapa hari kemudian,” ujarnya.
Persibholic.com pun bertanya mengenai rahasia Tohir ketika membesut sebuah tim. Apalagi pelatih yang satu ini dikenal memiliki sentuhan magis. Buktinya Persibo Bogor bisa naik kasta ke divisi utama pada tahun 1997 berkat sentuhan tangan dinginya. Persib Bandung pun pernah ia selamatkan dari ancaman degradasi pada Liga Indonesia VIII.
“Saya bukan pesulap yang bisa bikin tim jadi juara. Saya hanya komitmen serius melatih dan menerapkan disiplin serta kerja keras kepada pemain. Dan yang penting juga bagaimana bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki pemain. Itu saja,” tandasnya

Sumber  :  http://www.persibholic.com/3856/sejarah-ada-di-tangan-indra-thohir

Categories: , , , , ,

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!